Friday, November 20, 2009

AHM Oil, menipu atau salah informasi?

Banyaknya varian oli mesin yang beredar di pasaran tidak membuat Astra Honda Motor gentar untuk juga ikut memasarkan oli mesin. Sejauh ini, motor Honda hampir selalu identik dengan oli Federal yang direkomendasikan. Bahkan seorang petugas dealer AHASS di Tunas Jaya Magelang kala itu menyebutkan kalau garansi mesin 3 tahun yang diberikan Honda akan tidak berlaku jika ketahuan motor Honda menggunakan oli selain produk Federal. Benarkah demikian? Lucunya, ketika dealer mengalami loss stock atas produk oli Federal, banyak konsumen ditawari oli produk Crossline. Siasat menghindari loss sales kah? Sementara di Jepang, Honda merekomendasikan oli Repsol untuk produknya.
Sebagai pemegang pasar sepeda motor di Indonesia, Astra Honda Motor dewasa ini merekomendasikan oli terbarunya, MPX1 dan MPX2 -Maximum Protection eXpert-red. Oli tersebut memiliki spesifikasi 10W-30, API:SJ, JASO:MB, dimana cocok untuk sepeda motor dengan kopling sentrifugal kering alias tipe bebek/skuter.
Oli ini dipromosikan memiliki keunggulan yang ramah lingkungan, membuat hemat bahan bakar, rendah polutan dan perawatan. Harganya pun cukup terjangkau bagi konsumen-konsumennya. Sebagai seorang konsumen fanatik motor Honda, saya pun ingin mencoba dan mengetahui kehebatan oli ini, yang dipromosikan di TV dapat bertahan hingga 4000km. Ketika hendak ganti oli di dealer AHASS Asia Motor, Kedoya, Jakarta, tidak ada saran atau penjelasan lebih lanjut tentang penggunaan oli ini.
Well, ketika dicoba pertama kali memang terasa ringan dan akselerasi yang dihasilkan mantap. Oke, bolehlah dicoba untuk berikutnya. Tertarik dengan iming-iming kekuatan 4000km di ukuran 800 cc itu, saya pikir aman untuk mencapai 2000-an km di area Jakarta yang notabene nya macet dimana-mana. Karena kesibukan dan waktu yang terbatas untuk servis, tak terasa dashboard sudah menunjukkan ada di angka lebih dari 3000km. Ketakutan akan oli yang habis, langsung cek oli, dan ternyata sudah kritis, oli sudah tak terlihat. Setelah meluncur ke bengkel terdekat dan ganti oli, sisa oli MPX1 yang ada hanya tinggal sebanyak 1 gelas air mineral. Gosh! Termakan iklan? Parahnya, oli ini adalah produk dari Idemitsu untuk Honda. Bukan rekomendasi dari Honda Jepang, melainkan kerjasama Astra Honda Motor dengan Idemitsu.
Ternyata, kakak saya pun mengalami hal yang lebih parah. Sama-sama menggunakan Supra X 125, ia bahkan baru menempuh 2000km, namun dengan jarak tempuh sehari 75-100km, ditambah dengan macetnya Jakarta, alangkah terkejutnya ketika servis motor injeksinya, divonis bahwa oli HABIS! Seperti normalnya kasus serupa, hal ini berdampak pada vonis ganti ring seker alias turun mesin. Lalu? Apa Honda mau bertanggung jawab dengan kejadian seperti ini? Kan katanya garansi mesin 3th. Olinya masih Honda lho.
Kaget dengan hal ini, saya pun menanyakan kepada seorang pemilik dealer di AHASS Asia Motor, Kedoya, tentang hal ini. Ia malah mengklaim motor kakak saya pasti bermasalah mesin nya, ia menyatakan bahwa oli mesin tidak mungkin sampai habis. (Bodoh! Padahal saya pun pernah mengalami hal serupa ketika menggunakan Astra Grand dulu). Kembali bertanya kepada mekaniknya, ia menyatakan mungkin saja, karena oli ini lebih encer dan tidak tahan panas. Federal Supreme XX memang lebih awet. Kabar baiknya, Honda Supra X 125 milik saya masih baik-baik saja. Masih penasaran dengan hal ini, saya mencoba menanyakan tentang oli ini kepada Mbah Google. Ada banyak obrolan di kaskus, kalau oli ini tidak disarankan untuk motor pabrikan dibawah tahun 2008. Oli ini sebenarnya hanya direkomendasikan untuk Honda Blade dan Absolute Revo yang memiliki karakteristik mesin berbeda dengan Supra X. Yang kemudian disesalkan, kenapa iklan di TV tidak disebutkan demikian, atau dealer juga tidak menginformasikan kepada konsumen-konsumennya.
Jadi? Kalau motor Anda bukan Blade, Abosulte Revo, Vario, atau Beat, jangan gunakan oli ini. *note: ternyata Absolute Revo kencang juga, dalam kecepatan 110 km/jam saya melaju dengan Supra X 125, si Revo dengan santainya mendahului saya seketika*

Wednesday, November 11, 2009

Warung Dewata, nuansa Bali di tengah Jogja

Siapa sangka ada warung nuansa Bali di tengah Jogja? Namanya warung Dewata, letaknya ada di jalan Sorowajan Baru 27, Banguntapan. Cukup dekat dari Mal Ambarukmo, melewati perumahan Polri, Gowok. Menurut informasi, yang punya warung memang asli orang Bali, dan Dewa Budjana sering mampir untuk makan di sini.
Warungnya sederhana, jadi satu dengan rumah si pemilik, dan bersebelahan dengan sawah. Tidak ada mesin register, tidak ada lampu bergaya minimalis ala resto, tidak ada advert lain-lain. Segmentasinya pun bisa dibilang lebih condong ke mahasiswa. Ooops, tapi maaf, warung ini tidak disarankan bagi temen-temen yang menganut agama Muslim. Karena memang menu yang disajikan adalah khas Bali, dimana ada daging babi yang diolah disana. Tapi juga jangan di grebeg ya, karena setiap orang berhak berusaha mencari nafkah secara halal pula.
Kala itu menu yang disantap adalah paket spesial. Dimana dalam 1 paket, komplit, terdiri dari lauk-lauk yang ada. Ada satai lilit, ayam pelalah, sayur nagka, lawar (semacam urap sayuran), krupuk kulit, dan tentunya sambal Bali yang khas. Kenapa ada menu seperti ini? Konon katanya, bagi orang Bali, makanan tidak hanya dimasak untuk diri sendiri, tetapi juga untuk leluhur atau dewa. Jadi memasak yang enak, lengkap, dan komplit, akan menyenangkan bagi semuanya.
Bagi yang belum pernah mencoba, rasanya mungkin akan aneh, makan dengan lauk yang banyak, dengan bumbu yang lengkap, dan pedas rasanya. Tapi pedasnya nggak menyiksa perut. Enak kan, ada daging babi, ada juga daging ayam. Dan menu di samping, plus es teh, tidak sampai 10 ribu. Murah kan?
Di warung ini, terdapat juga semacam bale untuk makan, mungkin biar lebih dapet nuansa Bali nya. Apalagi bersebelahan dengan sawah, mungkin bisa membantu menghijaukan mata kembali. Hm, jadi punya satu alternatif tempat makan lagi di Jogja. Tertarik mencoba? Monggo pinarak..
-Thank you Chay, for show me this place..-

Tuesday, October 20, 2009

When the sky go blue..

Setelah sekian waktu, akhirnya berkesempatan mencicipi penerbangan termurah dan terbaik di dunia, Airasia. Penerbangan kali ini berbeda dengan yang pertama Desember tahun lalu, tanpa delay, dan pelayanan yang ramah sejak dari check in sampai turun di tujuan.Bedanya kalau flight siang dengan malam ya begini. Kalau malam, yang terlihat hanya lampu atau malah gelap sama sekali. Tapi siang di cuaca yang cerah, yang tampak adalah awan dan langit biru, gunung, garis pantai, danau, laut. Amazing!
Entah apa yang ada di benak penumpang lain yang melihat aku memotret gambar-gambar ini. Mungkin mereka berpikir aku mengabaikan keselamatan penumpang, namun yang pasti saat gambar ini diambil, signal di handphone dalam posisi off.
Sama-sama naik Airbus A320, tapi kok beda. Milik Airasia lebih nyaman, nggak berisik daripada Mandala. Hm, jadi penasaran naik dan membandingkan dengan Boeing milik Garuda. Sayang tiketnya masih mahal.Rasa nyaman ini semakin terasa dalam, karena vacation terakhir kemarin 4 hari bersamanya, Chay demikian aku memanggilnya. >> Thank you Dear, for having a holiday with me <<

Saturday, October 10, 2009

Sarana mudik kala itu..

Mudik naik bus? Bagi sebagian orang mungkin dirasakan tidak nyaman karena lebih memilih kereta api, atau pesawat terbang. Terlebih bila orang tersebut sudah mempunyai keluarga (suami/istri, anak). Ada beberapa alasan mengapa orang menghindari naik bus untuk pulang kampung, mulai dari merasa repot ketika membawa anaknya serta, harus tahan mual karena bus sering berhenti atau berbelak-belok, sempit, bahkan karena sering dioper ke bus lain di tengah jalan.
Namun bagi yang dapat menikmati perjalanan darat, naik bus lebih menyenangkan daripada naik kereta, terlebih bagi memiliki kota tujuan yang tidak memiliki stasiun kereta api. Bus malam sekarang ini berbeda dengan yang dulu. Rasanya sekarang perusahaan otobus saling berlomba tentang pelayanan, kecepatan, design, fasilitas, kenyamanan, dan penampilan bus itu sendiri. Dan tidak sedikit pula yang jadi penggemar bus, seperti yang ada dalam www.busmania.com .
Seiring dengan tugas kerja di daerah Kebon Jeruk, mudik dengan Safari Dharma Raya di pull Kebayoran Lama menjadi pilihan utama, daripada harus ke Slipi, atau Grogol, dengan bus yang belum jelas. Bus yang lebih dikenal dengan nama OBL ini termasuk salah satu bus yang memiliki kelas Big Top, yaitu bus yang hanya berpenumpang 20 orang saja. Jadi setiap penumpang mendapatkan ruang yang luas untuk duduk dan bahkan tidur dengan posisi kaki lurus, dan punggung direbahkan.
OBL termasuk bus yang konsekuen dengan aturan. Sejauh saya pulang dengan bus ini, tidak pernah sopir dan kondektur menaikkan penumpang di pinggir jalan. Namun sayangnya, kondisi body bus yang bagus ini adalah hasil reparasi karoseri. Jadi bus yang bagus body nya, tidak selalu bermesin baru. Cukup terasa bila dibandingkan dengan Big Bird, dan selalu kalah sprint dengan bus-bus lain semisal Raya, Ramayana, atau Santoso. Bus yang asli Temanggung ini termasuk yang ambil rute Weleri, jadi lebih cepat sampai di Magelang.
Berbeda hal ketika harus kembali ke Jakarta. Perjalanan menuju Jakarta lebih senang kutempuh dengan Santoso daripada kembali menggunakan OBL atau Ramayana. Santoso dikenal cepat dan selalu on time sampai Jakarta, paling telat jam 8 pagi pasti sudah masuk Jatibening. Walau tidak sebagus bus-bus lain secara penampilan, Santoso punya mesin yang jago sprint. Santoso selalu berangkat dari Magelang secara berurutan, jadi ketika salah satu bus mengalami kendala, bus yang lain ikut berhenti dan membantu. Saat long weekend dan banyak orang mudik sesaat, beberapa dari sopir biasanya saling kontak untuk menghindari kemacetan. Antara lain, dengan tidak masuk tol Cikampek, dan baru masuk tol di daerah Cikarang. Atau malah lewat jalur selatan dari awal berangkat. Sehingga mengurangi macet di jalur pantura, dan penumpang pun tenang sampai Jakarta on time. Sayangnya, banyak juga penumpang gelap di bus ini. Pada naik tanpa tiket di bus, atau di pinggir jalan, dan membuat penumpang lain tidak nyaman, karena harus ndhesel di belakang.
Mudik besok, nggak pake naik bus ini lagi. Mesti naek kereta dan pulang naik pesawat. Karena judulnya tak lagi mudik sendiri, tapi berdua. Mudik berikutnya? Kalau itu sendiri, pasti naik bus. Tapi karena area kerja sekarang di Matraman, tak lagi naik OBL dari Kebayoran Lama, tapi kurang tahu bus apa yang ada di terminal Rawamangun.

Monday, October 5, 2009

Nyaman berbatik

2 Oktober 2009 lalu, hampir semua karyawan memakai pakaian batik. Bahkan ada kantor yang menjadwalkan menggunakan batik setiap Jumat. Semua orang Indonesia mulai tertuju dan kembali berapresiasi pada batik. Setelah batik dikukuhkan UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, memang sepatutnya kita bangga menggunakan batik.
Bicara mengenai batik, saya termasuk seorang yang memang menyukai berbatik. Ada kesan rapi, menghormati, formal tapi santai, dan unik ketika kita berbatik ria, sedang yang lain tidak. Dulu, ketika seusia SMA, dimana teman-temanku saat itu senang menggunakan kaos atau kemeja bermotif kotak/garis dengan paduan celana kargo dalam event semi/formal, saya lebih memilih menggunakan celana jeans dan batik yang simple. Saat duduk di bangku kuliah, mata kuliah Metodologi Penelitian, juga saat bimbingan skripsi, berbatik lengan pendek menjadi pilihan daripada berkemeja biasa. Sampai saat itu ada yang nyeletuk, "Habis dari kondangan Yus?"
Entahlah, mungkin saya dianggap berpikir terlalu tua atau apalah. Yang jelas saya nyaman dengan style itu. Padahal batik yang saya pakai tidak lebih dari harga 40 ribu rupiah, dari Pekalongan. Sekarang, akhirnya berkesempatan membeli batik mahal di Batik Keris, tentunya dengan gaji sendiri. Dan itulah baju pertama yang saya beli dengan gaji, selama berpenghasilan hampir dari 2 tahun.
Lalu? Bagaimana kisah Anda dengan batik? Well, saya yakin sekarang batik sudah menjadi tren bagi karyawan. Tidak seperti dulu, batik yang identik dengan kuno. Lihatlah harga batik sekarang ini, melebihi harga pakaian garment/konveksi lokal semacam M-Gee, Gabriele (Gabs), Carvil, etc.