Banyaknya varian oli mesin yang beredar di pasaran tidak membuat Astra Honda Motor gentar untuk juga ikut memasarkan oli mesin. Sejauh ini, motor Honda hampir selalu identik dengan oli Federal yang direkomendasikan. Bahkan seorang petugas dealer AHASS di Tunas Jaya Magelang kala itu menyebutkan kalau garansi mesin 3 tahun yang diberikan Honda akan tidak berlaku jika ketahuan motor Honda menggunakan oli selain produk Federal. Benarkah demikian? Lucunya, ketika dealer mengalami loss stock atas produk oli Federal, banyak konsumen ditawari oli produk Crossline. Siasat menghindari loss sales kah? Sementara di Jepang, Honda merekomendasikan oli Repsol untuk produknya.Sebagai pemegang pasar sepeda motor di Indonesia, Astra Honda Motor dewasa ini merekomendasikan oli terbarunya, MPX1 dan MPX2 -Maximum Protection eXpert-red. Oli tersebut memiliki spesifikasi 10W-30, API:SJ, JASO:MB, dimana cocok untuk sepeda motor dengan kopling sentrifugal kering alias tipe bebek/skuter.
Oli ini dipromosikan memiliki keunggulan yang ramah lingkungan, membuat hemat bahan bakar, rendah polutan dan perawatan. Harganya pun cukup terjangkau bagi konsumen-konsumennya. Sebagai seorang konsumen fanatik motor Honda, saya pun ingin mencoba dan mengetahui kehebatan oli ini, yang dipromosikan di TV dapat bertahan hingga 4000km. Ketika hendak ganti oli di dealer AHASS Asia Motor, Kedoya, Jakarta, tidak ada saran atau penjelasan lebih lanjut tentang penggunaan oli ini.
Well, ketika dicoba pertama kali memang terasa ringan dan akselerasi yang dihasilkan mantap. Oke, bolehlah dicoba untuk berikutnya. Tertarik dengan iming-iming kekuatan 4000km di ukuran 800 cc itu, saya pikir aman untuk mencapai 2000-an km di area Jakarta yang notabene nya macet dimana-mana. Karena kesibukan dan waktu yang terbatas untuk servis, tak terasa dashboard sudah menunjukkan ada di angka lebih dari 3000km. Ketakutan akan oli yang habis, langsung cek oli, dan ternyata sudah kritis, oli sudah tak terlihat. Setelah meluncur ke bengkel terdekat dan ganti oli, sisa oli MPX1 yang ada hanya tinggal sebanyak 1 gelas air mineral. Gosh! Termakan iklan? Parahnya, oli ini adalah produk dari Idemitsu untuk Honda. Bukan rekomendasi dari Honda Jepang, melainkan kerjasama Astra Honda Motor dengan Idemitsu.
Ternyata, kakak saya pun mengalami hal yang lebih parah. Sama-sama menggunakan Supra X 125, ia bahkan baru menempuh 2000km, namun dengan jarak tempuh sehari 75-100km, ditambah dengan macetnya Jakarta, alangkah terkejutnya ketika servis motor injeksinya, divonis bahwa oli HABIS! Seperti normalnya kasus serupa, hal ini berdampak pada vonis ganti ring seker alias turun mesin. Lalu? Apa Honda mau bertanggung jawab dengan kejadian seperti ini? Kan katanya garansi mesin 3th. Olinya masih Honda lho.
Kaget dengan hal ini, saya pun menanyakan kepada seorang pemilik dealer di AHASS Asia Motor, Kedoya, tentang hal ini. Ia malah mengklaim motor kakak saya pasti bermasalah mesin nya, ia menyatakan bahwa oli mesin tidak mungkin sampai habis. (Bodoh! Padahal saya pun pernah mengalami hal serupa ketika menggunakan Astra Grand dulu). Kembali bertanya kepada mekaniknya, ia menyatakan mungkin saja, karena oli ini lebih encer dan tidak tahan panas. Federal Supreme XX memang lebih awet. Kabar baiknya, Honda Supra X 125 milik saya masih baik-baik saja. Masih penasaran dengan hal ini, saya mencoba menanyakan tentang oli ini kepada Mbah Google. Ada banyak obrolan di kaskus, kalau oli ini tidak disarankan untuk motor pabrikan dibawah tahun 2008. Oli ini sebenarnya hanya direkomendasikan untuk Honda Blade dan Absolute Revo yang memiliki karakteristik mesin berbeda dengan Supra X. Yang kemudian disesalkan, kenapa iklan di TV tidak disebutkan demikian, atau dealer juga tidak menginformasikan kepada konsumen-konsumennya.
Jadi? Kalau motor Anda bukan Blade, Abosulte Revo, Vario, atau Beat, jangan gunakan oli ini. *note: ternyata Absolute Revo kencang juga, dalam kecepatan 110 km/jam saya melaju dengan Supra X 125, si Revo dengan santainya mendahului saya seketika*



Bedanya kalau flight siang dengan malam ya begini. Kalau malam, yang terlihat hanya lampu atau malah gelap sama sekali. Tapi siang di cuaca yang cerah, yang tampak adalah awan dan langit biru, gunung, garis pantai, danau, laut. Amazing!
Entah apa yang ada di benak penumpang lain yang melihat aku memotret gambar-gambar ini. Mungkin mereka berpikir aku mengabaikan keselamatan penumpang, namun yang pasti saat gambar ini diambil, signal di handphone dalam posisi off.
Sama-sama naik Airbus A320, tapi kok beda. Milik Airasia lebih nyaman, nggak berisik daripada Mandala. Hm, jadi penasaran naik dan membandingkan dengan Boeing milik Garuda. Sayang tiketnya masih mahal..jpg)
.jpg)
.jpg)



